LOGOS DAN ALGORITMA: PENDIDIKAN KRISTEN DI TENGAH KRISIS DIGITAL
DOI:
https://doi.org/10.70823/jsttpa.v6i2.57Kata Kunci:
Digital literacy, Christian religious education, philosophy, theology, post-truthAbstrak
Gelombang digitalisasi bukan hanya memindahkan manusia ke ruang komunikasi baru, melainkan menggeser horizon eksistensial. Pendidik Kristen kini tidak lagi sekadar pengajar dogma, tetapi navigator di samudra data yang cair, kompetitif, dan rawan manipulasi. Literasi digital, dalam konteks ini, tidak cukup dipahami sebagai keterampilan teknis menggunakan gawai, melainkan medan pergumulan ontologis dan teologis: bagaimana iman Kristen menghadirkan terang di ruang maya yang sering kali redup oleh noise algoritmik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka, menelusuri literatur lima tahun terakhir dalam jurnal nasional dan internasional, serta buku sepuluh tahun terakhir. Kebaruan artikel ini terletak pada perspektif filsafat dan teologi yang dipakai untuk menafsir literasi digital: bukan hanya sebagai kompetensi teknologi, tetapi sebagai disiplin spiritual yang membentuk virtue epistemology Kristiani. Hasil kajian menunjukkan bahwa literasi digital dapat menjadi instrumen pemurnian iman bila dipraktikkan dalam kerangka hermeneutika eksistensial dan teologi logos. Pendidik Kristen dipanggil sebagai teolog digital sekaligus filsuf publik yang menuntun generasi mendatang melintasi ruang maya dengan kebijaksanaan iman, kritisisme epistemik, dan karakter Kristus. Artikel ini memberi kontribusi konseptual bagi Pendidikan Agama Kristen (PAK), yakni mengartikulasikan literasi digital sebagai arena pedagogis-teologis yang mempersiapkan peserta didik menghadapi era pasca-kebenaran tanpa kehilangan akar ontologisnya

