KETIKA AI MENJADI “GURU BARU”: TANTANGAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TENGAH KECERDASAN BUATAN
DOI:
https://doi.org/10.70823/jsttpa.v6i2.59Kata Kunci:
Kecerdasan buatan; Pendidikan Agama Kristen; etika digital; spiritualitas; generasi digital.Abstrak
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah wajah pendidikan modern, termasuk dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK). Teknologi AI seperti ChatGPT, virtual assistant, sistem pembelajaran adaptif, dan platform pendidikan berbasis algoritma semakin menjadi sumber belajar alternatif bagi peserta didik. Dalam konteks ini, AI tidak lagi sekadar alat teknologi, tetapi mulai berfungsi sebagai “guru baru” yang memengaruhi cara belajar, berpikir, dan membangun pengetahuan generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan peluang Pendidikan Agama Kristen di tengah perkembangan kecerdasan buatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka melalui kajian berbagai literatur nasional dan internasional terkait AI, pendidikan, etika digital, spiritualitas, dan pedagogi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan buatan menghadirkan peluang inovasi pembelajaran, aksesibilitas sumber pendidikan, serta pengembangan literasi digital. Namun, AI juga menghadirkan tantangan serius seperti krisis otoritas guru, menurunnya kemampuan berpikir kritis, ketergantungan teknologi, dilema etika, serta melemahnya spiritualitas dan pembentukan karakter peserta didik. Oleh sebab itu, Pendidikan Agama Kristen dipanggil untuk hadir bukan hanya sebagai pengajar doktrin, tetapi juga sebagai gerakan pendidikan transformatif dan kontekstual yang membimbing peserta didik menggunakan teknologi secara bijaksana dan etis. Pendidik Kristen ditantang menjadi mentor digital dan pembimbing spiritual yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai iman Kristen dengan perkembangan teknologi modern. Artikel ini memberikan kontribusi konseptual bagi pengembangan Pendidikan Agama Kristen di era kecerdasan buatan.

